02 Mei 2009

SEJARAH PERKEMBANGAN JU-JITSU DI GRESIK

0 komentar

Institut Ju-Jitsu Indonesia (IJI) Cabang Gresik dibawa oleh Kahar Guntoro (DAN III) pada tahun 1991 atas nama cabang Surabaya. Namun sebelum dikukuhkan menjadi salah satu cabang Ju-Jitsu di kota Gresik masih berstatuskan independent atau hanya sekedar meminjam tempat latihan. Perjalanan Ju-Jitsu Gresik dapat dikatakan gampang-gampang susah, hal itu disebabkan oleh status tersebut. Akan tetapi semua itu tidak menjadi suatu masalah yang berat dan rumit bagi para Ju-Jitsan saat itu.
Ju-Jitsan pertama di Gresik saat ini yang tersisa adalah oleh Dody Ibrahim (DAN I), Husni Said, S.E. (DAN I), Selamet, Amd (DAN I), Hilmi Ryzal (DAN I), Suryono (DAN I), Sarwo (DAN I), Gufron (DAN I), Farid (DAN I) Mereka adalah murid-murid atau anak didik Ju-Jitsu dari Kahar Guntoro (DAN IV).
Pada masa-masa latihan yang mereka lakukan, tidak seperti masa sekarang. Tetapi mirip dengan sekolah militer bagi mereka. Dan apa boleh buat, bila memang sudah menjadi jodohnya, takkan lari gunung dikejar. Semangat pun berlatih masih terus membara dalam diri mereka hingga sekarang.
Tahun 1994, kepemimpinan Kahar Guntoro digantikan oleh (Alm) Ibnu Teguh Santoso, S.H. (DAN II). Suasana mulai berubah. Dulu latihan yang hanya terpatok dalam hal fisik dan materi, kini pada masa kepemimpinan (Alm) Ibnu Teguh Santoso, S.H., Ju-Jitsu Gresik berkembang pesat dikarenakan karena lebih terimbangi pada keorganisasian. Pada saat-saat itu pula dojo Ju-Jitsu di Gresik yang dulunya hanya ada di SMA Semen Gresik. Pun berkembang. Mulai dari SMK Semen Gresik, SMAN 1 Gresik, SMAN 1 Manyar, SMAN 1 Cerme, SMAN 1 Kebomas, SMPN 1 Bungah, SMA NU 1 Gresik, SDN Sidokumpul 2 Gresik, SD Petro Kimia Gresik, dan dojo Ponpes Hidayatullah Manyar. Dan Ju-Jitsan pun bertambah seiring dengan bertambahnya Dojo-Dojo tersebut.
Sebagai langkah-langkah dalam meningkatkan kemantapan dan kemandirian pengurus, Ju-Jitsu Gresik pun menggalang kegiatannya mulai dari tahun 1994, antara lain:

1.Gashuku diadakan setiap tahun.

2.Program beasiswa bagi keluarga Ju-Jitsan yang kurang mampu, dan Ju-Jitsan yang berprestasi dalam bidang akademik, dan diadakan tiap tahun.

3.Kejuaraan Ju-Jitsu Kepala Sekolah SMPN 1 Gresik Cup I, tanggal 1 November 1998 (Juara Umum dari Dojo SMAN 1 Gresik).

4.Ceramah ilmiah dengan tema “Menyikapi Bahaya Narkoba dan Perkelahian Antar Pelajar”,tahun 2000.

5.Kejuaraan Ju-Jitsu Kepala Sekolah SLTPN 1 Cup II, tanggal 30 September 2000 (Juara Umum dari Dojo SMP N 1 Gresik).

6.Kejuaraan Ju-Jitsu Kepala Dinas P&K Kab. Gresik Cup I, tanggal 6 Agustus 2001 (Juara Umum dari Dojo SMAN 1 Gresik).

7.Ceramah ilmiah dengan tema “Menyikapi Pergaulan Bebas di Kalangan Pelajar”, tahun 2002.

8.Kejuaraan Ju-Jitsu Bupati Kab. Gresik Cup, tanggal 18 Agustus 2002 (Juara Umum dari Dojo SMAN 1 Gresik).

9.Kejuaraan Ju-Jitsu Kepala Dinas P & K Kab. Gresik Cup II, tanggal 5 Oktober 2003(Juara Umum dari Dojo SMAN 1 Cerme.

10.Kejuaraan Ju-Jitsu Bupati Kab. Gresik Cup, tanggal 12 Maret 2005 (Juara Umum dari Dojo SMAN 1 Cerme).

11.Kejuaraan Ju-Jitsu Kepala Dinas P & K Kab. Gresik Cup, tanggal 12 Maret 2006 (Juara Umum dari Dojo SMAN 1 Manyar).

12.Seminar Remaja dengan tema “Knowing Your Sex” pada Januari 2007.

13.Kejuaraan Ju-Jitsu Bupati Kab.Gresik Cup, tanggal 18 Maret 2007 (Juara Umum dari Dojo SMAN 1 Gresik).

14.Kejuaraan Ju-Jitsu Kepala DPRD Gresik Cup, tanggal 20 Januari 2008 (Juara Umum dari Dojo SMPN 1 Bungah).

Dari rangkuman diatas adalah sebagian kegiatan-kegiatan Ju-Jitsu Gresik yang telah terealisasikan atas usaha dan kerja keras para pelopor Ju-Jitsu Gresik selama ini. Dan pada tahun 2002, nama Ju-jitsu Gresik berubah menjadi Ju-Jitsu Cabang Gresik. Disaat itu pula Pemkab Gresik menyarankan, agar Organisasi Ju-Jitsu Cabang Gresik ikut serta dalam keanggotaan KONI Gresik. Lamanya perjuangan demi mewujudkan menjadi suatu cabang di kota Gresik sendiri yang dulu tak pernah terpikirkan, kini telah menjadi Setelah suatu gebrakan yang dibuat oleh Dody Ibrahim A, dkk. Dan kita, sebagai Ju-Jitsan penerus, tetaplah menjaga semangat yang telah dirintis oleh para senior pendahulu, dalam latihan maupun dalam keorganisasian. Demi kemakmuran dan ketentraman bersama, tanpa terlepas dari Sumpah & Semboyan JU-JITSU dalam menjalankan dan mewujudkannya.

27 April 2009

SEJARAH PERKEMBANGAN JU-JITSU DI INDONESIA

0 komentar


Beladiri Ju-Jitsu, khusus KYUSHIN-RYU masuk ke Indonesia pada saat sekitar pergolakan Perang Dunia II yaitu pada waktu Jepang masuk ke Indonesia (1942) yang dibawa oleh seorang tentara Jepang yang bernama ISHIKAWA. Ishikawa yang mem-pelajari teknik-teknik Ju-Jitsu dari aliran KYUSHIN-RYU, sehingga nantinya di Indonesia terkenal dengan beladiri Ju-Jitsu aliran I KYUSHIN-RYU (ISHIKAWA KYUSHIN-RYU).
Ishikawa mewariskan ilmunya kepada R. SOETOPO (Ponorogo). Kemudian R. Soetopo pun juga menurunkan ilmunya kepada Drs. Firman Sitompul (Guru Besar), Drs. Heru Noercahyo (DAN VIII), Drs. Bambang Supriyanto (DAN V), dan Irjen Pol. Yosua PM Sitompul, SH (DAN V). Beliau-beliau inilah yang berperan sebagai motor penggerak berkembangnya Ju-Jitsu di tanah air pada saat ini.
Ju-Jitsu di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), Institut Ju-Jitsu Indonesia (IJI) mulai menembus PTIK sejak tahun 1964, dengan alasan bahwa Ju-Jitsu bukan hanya menjaga kesegaran dan kebugaran tubuh agar tetap prima. Tetapi banyak unsur beladiri seperti Pukulan, Tendangan, Lemparan atau Bantingan dan Kuncian, yang bagi pihak Kepolisian bisa dijadikan medium untuk membela diri dan menumpas kejahatan.
Sejak tahun 1980-1981 berdiri yayasan Institut Ju-Jitsu Indonesia (IJI) yang dimotori oleh 4 (empat) orang pakar Ju-Jitsu, seperti Kol. Pol. Drs. Hutagaol, Irjen Pol. Drs. Yosua PM Sitompul, SH, Drs. Firman Sitompul, dan Drs. Heru Noercahyo. Yayasan Institut Ju-Jitsu Indonesia pengurus pusatnya berkedudukan di Jakarta.
Sejak Tahun 1980, Ju-Jitsu menjadi pelajaran/kuliah wajib bagi mahasiswa PTIK. Pada tahun 1981 diadakan beladiri Ju-Jitsu di PTIK Jakarta oleh pendekar-pendekar Ju-Jitsu Indonesia yang akhirnya mendapat penghargaan (pengakuan) dari Kedutaan Jepang di Jakarta.
Di PTIK (Pendidikan Lanjutan Per-wira Kepolisian/Lulusan Akademi Kepolisian yang berprestasi), beladiri Ju-Jitsu diajarkan sebagai mata kiliah wajib selain JUDO dan KARATE. Ju-Jitsu diikuti oleh seluruh mahasiswa PTIK selama satu setengah tahun (3 Semester) dan minimal harus mencapai sabuk coklat (KYU I). Mata kuliah beladiri di PTIK merupakan hal hal yang penting untuk dipelajari karena salah satu tugas Kepolisian sebagai pengayom dalam memberikan per-lindungan dan pelayanan kepada masyarakat bagi tegaknya peraturan perundang-undangan.


Institut Ju-Jitsu Indonesia saat ini berkembangan di tengah-tengah masyarakat pada umumnya maupun di sekolah-sekolah dasar hingga sekolah menengah serta Perguruan Tinggi.
TINGKATAN SABUK DALAM JU-JITSU
Warna sabuk atau ikat pinggang yang menunjukan tingkat keahlian dalam Ju-Jitsu sebagai berikut:
Sabuk Putih = Kyu VI (Roku-Kyu)
Sabuk Kuning = Kyu V (Go-Kyu)
Sabuk Hijau = Kyu IV (Yon-Kyu)
Sabuk Oranye = Kyu III (San-Kyu)
Sabuk Biru = Kyu II (Ni-Kyu)
Sabuk Coklat = Kyu I (Ik-Kyu)
Sabuk Hitam = Dan I (Sho-Dan)
Sabuk Hitam = Dan II (Ni-Dan)
Sabuk Hitam = Dan III (San-Dan)
Sabuk Hitam = Dan IV (Yon-Dan)
Sabuk Hitam = Dan V (Go-Dan)
Sabuk Merah-Putih = Dan VI (Roku-Dan)
Sabuk Merah-Putih = Dan VII (Shichi-Dan)
Sabuk Merah-Putih = Dan VIII (Hachi-Dan)
Sabuk Merah = Dan IX (Kyu-Dan)
Sabuk Merah = Dan X (Ju-Dan)
Pergantian sabuk dari yang satu ke sabuk yang lebih tinggi harus terlebih dahulu menenpuh proses ujian-ujian Ju-Jitsu baik ujian teknik Ju-Jitsu maupun fisik serta ujian teori tentang Ju-Jitsu.

SUMPAH JU-JITSU
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Taat pada orang tua
3. Sanggup menjaga nama baik Ju-Jitsu
4. Bersikap ksatria dan jujur
5. Taat pada pelatih

SEMBOYAN JU-JITSU
1. Berlatih Ju-Jitsu demi kemanusiaan
2. Tidak sombong
3. Melindungi yang lemah, berdiri dipihak yang benar
4. Ju-Jitsu digunakan hanya dalam keadaan terpaksa
5. Dalam latihan tidak ada tawa dan tangis

SEJARAH AWAL DAN PERKEMBANGAN JU-JITSU

0 komentar

Kalau dilihat sejarah perkembangan beladiri di dunia, maka pada mula pertama cara perkelahian yang dilakukan oleh manusia dahulu kala masih sangat primitif, tidak mengenal aturan-aturan teknik sama sekali. Karena tujuan akhir dari cara berkelahi dari jaman primitif itu adalah mengalahkan lawan dengan segala cara agar lawan dapat dikuasai atau dibunuh.

Cara berkelahi primitif itu dari jaman ke jaman berangsur-angsur berubah karena pengaruh kebudayaan manusia, letak geografis, dan kepandai-an manusia. Dari tahun ke tahun bentuk perkelahian itu berkembang sehingga tiap-tiap bentuk perkelahian itu makin lama makin sempurna dan akhirnya mempunyai metode/cara yang teratur dan sistematis untuk dipelajari.

Menurut catatan literatur kuno di Jepang cara berkelahi yang tertua adalah SUMO atau gulat Jepang. Teknik-teknik membanting dalam Ju-Jitsu, karena secara umum teknik membanting dalam SUMO dipakai juga dalam Ju-Jitsu.

Pada tahun 230 BC, di Jepang yaitu pada saat pemerintah Kaisar Suinin telah ada suatu bentuk pertandingan adu kekuatan fisik dan kepada pemenangnya diberi hadiah. Dalam pertandingan itu telah dipakai teknik membanting dan menghimpit (menjepit) tubuh lawan, hal tersebut menunjukkan awal dari timbulnya teknik kuncian, walaupun masih dalam bentuk sederhana yaitu menindih.

Selanjutnya teknik membanting, mengunci, menendang, memukul, menangkis, itu berkembang terus dari tahun ke tahun di Jepang, tetapi saat itu teknik berkelahi Ju-Jitsu hanya dipelajari secara tertutup dan fanatik dikalangan masing-masing marga atau suku. Ketertutupan dan kerahasiaan cara belajar teknik Ju-Jitsu itu baru dapat diketahui untuk dipelajari secara terbuka pada saat jaman pemerintahan Pangeran Teijun tahun 850-880, dimana pada tahun-tahun tersebut telah mulai dibuka sekolah-sekolah Ju-Jitsu tetapi khusus hanya boleh dipelajari oleh orang-orang Jepang saja.

Menurut cerita legenda sekitar tahun 1300 dikenal seorang tokoh Ju-Jitsu di Jepang bernama AKIYAMA YOSHINTOKI, telah menciptakan teknik-teknik berkelahi yang hebat dan lebih maju bila dibandingkan dengan beladiri yang ada di Jepang saat itu. Sehingga tahun 1300 tersebut dipandang sebagai tahun kebangkitan Ju-Jitsu, walaupun sebenar-nya teknik-teknik Ju-Jitsu itu telah ada dan tumbuh bersamaan dengan tumbuh-nya teknik-teknik membanting dalam Sumo, tahun 230 BC.

Pada jaman Meiji Restorasi tahun 1868 Ju-Jitsu tumbuh dan berkembang dengan pesat di Jepang dan jaman tersebut boleh dikatakan sebagai jaman keemasan dan kejayaan Ju-Jitsu. Sekolah-sekolah Ju-Jitsu didirikan, yang paling terkenal sekolah Ju-Jitsu pada saat itu adalah TAKENOUCHI-RYU, SEKIGUCHI-RYU, YAGYU-RYU, YOSHIN-RYU, KITO-RYU, TENSHIN-SHINYO-RYU, DAITO-RYU, SHINKAGE-RYU, dan KYUSHIN-RYU, dimana sekolah-sekolah Ju-Jitsu tersebut kemudian dipakai sebagai nama aliran dari masing-masing perkumpulan Ju-Jitsu.

Disamping kesembilan sekolah Ju-Jitsu yang terkenal itu masih banyak sekolah-sekolah Ju-Jitsu yang lain dengan inti gerakan yang berbeda-beda tiap-tiap sekolah.

Akhirnya dari sekolah-sekolah/ aliran-aliran Ju-Jitsu yang ada itu membentuk wujud baru dan melahirkan beladiri yang baru, sebagai contoh beladiri baru yang lahir dari Ju-Jitsu adalah JUDO, AIKIDO, HAPKIDO. Walaupun banyak beladiri baru yang lahir derasal dari Ju-Jitsu, tetapi masih banyak teknik-teknik yang tidak ada/tidak dimiliki beladiri tersebut, misalnya teknik-teknik membanting yang diangap berbahaya, teknik penggunaan pukulan tenaga dalam, teknik memainkan tongkat, pedang, senjata pisau lempar, rantai atau ikat pinggang, tongkat Yawaree dan teknik tendangan-tendangan terbang loncat ke udara.

Untuk mengetahui kemampuan dan tingkat keahlian seorang siswa Ju-Jitsu yang berlatih formal dalam suatu perguruan Ju-Jitsu dinyatakan dengan ikat pinggang yang dipakai oleh siswa Ju-jitsu tersebut.

JU-JITSU SEBAGAI INDUK DARI BELADIRI JUDO, AIKIDO, DAN HAPKIDO

Menurut catatan sejarah dan literatur kuno, Ju-Jitsu merupakan suatu beladiri berasal dari jepang yang sudah amat tua sekali umurnya, bila dibanding kan dengan beladiri Judo, Aikido, Hapkido dan Karate.

Pada sekitar tahun 1300 Ju-Jitsu sudah jadi suatu beladiri yang populer di Jepang, walaupun masih dipelajari dikalangan terbatas.

Jaman Meiji Restorasi di Jepang merupakan jaman perkembangan Ju-Jitsu yang pesat dan saat itu banyak berdiri sekolah-sekolah Ju-Jitsu. Ditengah-tengah masa kejayaan beladiri Ju-Jitsu tersebutlah muncul seorang pemuda Jepang bernama JIGORO KANO, yang dengan tekun mempelajari teknik-teknik Ju-Jitsu dari dua macam aliran.

Setelah Jigoro pandai dalam teknik-teknik Ju-Jitsu aliran KITO-RYU dan TENSHIN-SHINYO- RYU, diciptakanlah suatu bentuk beladiri baru pada tahun 1882 yang menitik beratkan pada inti gerakan membanting dan mengunci dan beladiri baru tersebut dinamakan beladiri JUDO.

Pada tahun 1901 muncul lagi seorang pemuda Jepang yang berbakat bernama MOREHEI UYESHIBA yang dengan tekun mempelajari teknik-teknik

Ju-Jitsu aliran KITO-RYU, DAITO-RYU, dan SHINKAGE-RYU. Dari ketiga aliran Ju-Jitsu yang ia pelajari tersebut pemuda Morehai Uyeshiba menciptakan suatu bentuk beladiri baru yang ia namakan AIKIDO, pada tahun 1925.

Beladiri Aikido menitikberat-kan pada gerakan membanting dan mengunci, tetapi gerakannya lebih halus dari pada Judo.

Hampir bersamaan dengan waktu pemuda Morehei belajar Ju-Jitsu, datang dari Korea seorang pemuda lain yang bernama YANG SHUL CHOI untuk belajar Ju-Jitsu di Jepang. Pemuda tesebut dengan tekun belajar teknik-teknik Ju-Jitsu dari aliran DAITO-RYU, setelah pandai ia pulang kembali ke Korea.

Setelah itu Yang Shul Choi berada di Korea, timbul ide untuk menggabungkan beladiri Ju-Jitsu aliran Daito-Ryu dengan beladiri asli Korea bernama TANG-SO-DO. Dari hasil penggabungan tersebut lahirlah bentuk beladiri baru bernama HAPKIDO, tahun 1945 dengan pendirinya Yang Shul Choi.

 

JU-JITSU DOJO SMAN 1 GRESIK Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template